Akibat Ketidak Pedulian Pemkab Simalungun, Anak Rantau Dan Masyarakat Bangun Sitolubah Perbaiki Jalan Kabupaten Secara Swadaya

  • Whatsapp

SIMALUNGUN, detik12.com — Walau saat ini musim pandemi Covid 19, namun anak rantau bersama warga setempat harus rela bergotongroyong untuk membangun jalan Magori Banhun Soyolu Bah Kecamatan Panei Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Wilayah yang memiliki penduduk sekitar 207 KK ( Kepala Keluarga ) itu menurut sumber tidak pernah mendapat perhatian dari Perintah Pusat, Provinsi apalagi daerah ( Pemerintah Kabupaten Simalungun )

Read More

Atas ketidak pedulian Pemerintah daerah dan pusat terhadap daerah terpencil itu,maka di saat ekonomi masyarakat sangat sulit akibat Covid 19, warga justru peduli dengan pembangunan dimana mereka dulunya menetap.

Seperti di Magori Banhun Soyolu Bah Kecamatan Panei Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang di huni srkitar 896 Jiwa dan berpenghasilan bertani kopi, cabe, pisang, sayur sayuran, jeruk, dan lainnya ini missalnya

Desa yang memiliki 4 Dusun yakni Dusun Lumban Turnip, Tolong Bosar, Bahinsir dan Lumban Sitio,tersebut perlu mendapat perhatian pembangunan infrastruktur dari Pemerintah.

“Jalan berstatus Jalan Kabupaten yang menghubungkan Desa Simantin Pane dengan Desa Simpang Sigodang, melintasi Nagori atau Desa Bangun Sitolu Bah hingga saat ini sepanjang 3 KM masih belum tersentuh pembangunan,”ungkap R Sinaga, kepada awak media.

Dirinya menyampaikan bahwa masyarakat melalui perangkat desa pernah membuat proposal kepada Pemkab Simalungun
, namun belum juga terealisasi,sehingga
Anak rantau danasyarakat Bangun Sitolubah,membangun Jalan Kabupaten secara swadaya, “jelasnya.

Disebutkanya bahwa masyarakat hingga saat ini merindukan pembangunan jalan guna kelancaran transportasi. “Dikarenakan belum ada juga pembangunan dari Pemkab maka warga masyarakat iuran dengan anak rantau secara swadaya berupaya membangun dengan budaya gotongroyong melaksanakan pengecoran terutama di titik jalan yang paling parah,”jelasnya seraya emnambahkan hingga saat ini masih berlangsung dan sudah mencapai 200 Meter

Meski begitu, masyarakat masih berharap uluran tangan dan perhatian Pemerintah guna memperlancar transportasi warga untuk membawa hasil bumi dan bahan makanan dari kota serta anak sekolah

“Semoga dengan kehadiran Pemerintah membangun jalan di desa kami dapat memberi kesejahteraan kepada warga Nagori Bangun Sitolu Bah, “ucapnya.

Sebagaimana diketahui sejak Indonesia Merdeka, insfrastruktur jalan di Desa Bangun Sitolubah, Kecamatan Panei, Simalungun, belum pernah mendapat sentuhan dari pemerintah. Sementara, selama puluhan tahun kondisi jalan didaerah tersebut mengalami kerusakan yang sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi situasi ekonomi dan sosial masyarakat disana.

“Mengingat kondisi itu, akhirnya anak rantau dan masyarakat membangun komitmen untuk melakukan pembangunan. Pengumpulan dana telah dimulai sejak bulan Februari tahun 2020 lalu. Hingga kini, dana yang terkumpul berkisar Rp 100 juta. Dana tersebut dipergunakan untuk belanja bahan dan sewa alat bangunan, ‘terang Rismel Parulian Sinaga, selaku fasilitator penggerak kegiatan itu saat diwawancarai wartawan dilokasi pembangunan.

“Anak rantau kami sangat prihatin dengan kondisi jalan ini. Sejak Indonesia merdeka, belum pernah ada pembangunan,” ungkap Rismel.

Rismel menjelaskan, ada 4 kilometer kondisi jalan yang mengalami rusak berat. Dengan adanya swadaya anak rantau dan masyarakat, saat ini sedang berlangsung pembangunan rabat beton sepanjang 250 meter. Direncanakan, pembangunan secara swadaya akan dilaksanakan secara berkesinambungan.

“Dana yang terkumpul diperuntukkan belanja bahan dan sewa alat bangunan. Sementara yang mengerjakan, masyarakat Bangun Sitolubah bergotong-royong,” jelasnya.

Meskipun pandemi Covid-19 sedang melanda Negara Indonesia dan dunia, tidak menyurutkan semangat dan komitmen anak rantau dan masyarakat disana. Berkat kepedulian dan rasa tanggungjawab terhadap tanah kelahiran menjadi modal kuat dalam merealisasikan program itu.

“Masih 250 meter yang dibangun. Sementara jalan rusak berkisar 4000 meter. Masyarakat masih sangat membutuhkan perhatian dari pihak-pihak terkait,” tukasnya.

Program tersebut merupakan hal yang sangat menarik. Setiap perencanaan dan pelaksanaan dibutuhkan orang orang yang mampu mengeksekusi dengan baik. Apalagi prosesnya akan panjang dan berkesinambungan. Oleh karenanya, mereka telah membentuk kepanitiaan. Kepanitian yang terbentuk antaralain: Ketua Umum Bomen Situmorang, Wakil Ketua Ramlan Situngkir, Sekretaris Ermanus Sijabat dan Bendahara Erlinson Sihaloho.(rls/red/man)

Related posts