BeritaJAMBI

Dugaan Kasus Korupsi di Bulog Cabang Sungai Penuh, Romi Victa Rose: Tak Benar Itu, Kita Sudah Lakukan Sesuai Peraturan

×

Dugaan Kasus Korupsi di Bulog Cabang Sungai Penuh, Romi Victa Rose: Tak Benar Itu, Kita Sudah Lakukan Sesuai Peraturan

Share this article
SUNGAIPENUH, Detik12.com)–  Pemberitaan terkait kasus dugaan korupsi Kepala Bulog Cabang Sungai Penuh, Provinsi Jambi mendapat respon dari Kepala Cabang Bulog Sungai Penuh, Romi Victa Rose.
Menurut Romi Victa Rose kepada Detik12.com di kantornya, mereka sudah melakukan pendistribusian beras dan gula pasir sesuai aturan yang berlaku.
Selain itu, Romi membantah atas tuduhan yang dilakukan oleh LSM P2AN tersebu kepada dirinya yang menyebutkan, bahwa pendistribusian beras dan gula pasir tidak sesuai SOP.
“Kami tidak pernah melakukan apa yang telah diberitakan itu. Saya tidak melakukan korupsi. Apa yang telah kami lakukan sesuai dengan aturan atau SOP yang berlaku,” kata Romi.
Romi juga menerangkan, bahwa Bulog Cabang Sungai Penuh, Jambi tidak pernah diperiksa oleh pihak Satuan Pengawas Internal (SPI) terkait pendistribusian dan penyimpanan beras dan gula pasir sejak tahun 2021 sampai 2023 tersebut.
“Kita belum pernah diperiksa oleh SPI. Perlu saya jelaskan, dalam pelaksanaan penyimpanan, reproses dan penyaluran Bulog Cabang Sungai Penuh sudah sesuai dengan peraturan yang ditentukan oleh diperusahaan,” tambah Romi lagi.
Seperti berita sebelumnya, Ketua LSM Peduli Pembangunan dan Aparatur Negara (P2AN), Eka Sujandrai mengatakan kasus ini mulai diselidikinya sejak 2021 lalu. Pihaknya sudah mengantongi bukti-bukti untuk dilaporkan ke Kejati Jambi guna untuk diperiksa. Ada 24 saksi dari mitra Perum Bulog Cabang Kerinci yang mengetahui hal tersebut.
“Pelaku usaha yang bermitra dengan Perum Bulog Subdivre/Cabang Kerinci bisa dijadikan saksi sebagai penguat tindak pidana. Selain itu ada juga keterangan ahli yang dilengkapi dengan alat bukti surat,” kata Eka Sujandrai.
Dalam proyek penyimpanan dan pendistribusian tahun 2021 sampai 2023 itu, menurut Eka, ditemukan ada kekurangan beras 62.800 Kg dan gula pasir 27.250 Kg. Hal ini berdasarkan laporan hasil audit khusus tim Satuan Pengawas Intern (SPI) Regional.
“Atas dugaan korupsi ini, kerugian negara diperkirakan sebesar Rp 1.310.565.024,00 periode 2021 sampai dengan tahun 2023,” jelasnya.
Eka juga menerangkan, terungkapnya dugaan kasus korupsi ini dengan modus operandi resproses yang tidak sesuai dengan prosedur.
“Modus operandinya dilakukan dengan cara proses re-proses yang tidak dilakukan sesuai dengan SOP, serta pengeluaran barang komoditi tidak dicatatkan pada bagian gudang. Sehingga berakibat pada berkurangnya barang komoditi di gudang penyimpanan yang tidak dapat pertanggungjawabkan,” ujar Eka.(Feki Novendi Eksal)