HUKUM

Tipu-tipu Proyek Hingga Raup Uang Korban Rp 50 Juta, Pelaku Dihukum 2 Tahun 10 Bulan Penjara

×

Tipu-tipu Proyek Hingga Raup Uang Korban Rp 50 Juta, Pelaku Dihukum 2 Tahun 10 Bulan Penjara

Share this article

DUMAI, Detik12.com – Andi Bin Ma’un menjanjikan alias tipu-tipu proyek kepada Abdul Latif (korban) namun proyek yang dijanjikan tidak kunjung terealisasi akan tetapi uang korban sudah sempat diraupnya sebesar Rp 50 juta.

Andi menjanjikan proyek pembangunan SMAN 4 di Kecamatan Sungai Sembilan Kota Dumai kepada Abdul Latif untuk dikerjakan pada bulan Mei 2022, akan tetapi proyek tidak kunjung terealisasi, maka korban (Abdul Latif) melaporkan Andi ke Polisi sehingga Andi ditetapkan sebagai tersangka hingga terdakwa di PN Dumai.

Kini perkara terdakwa Andi sudah bergulir pada persidangan di PN Dumai dan hari ini sudah masuk pada agenda pembacaan putusan oleh majelis hakim di PN Dumai, Selasa (23/5/2023).

Dalam agenda vonis perkara ini majelis hakim dipimpin Hamdan Saripudin SH sebagai ketua majelis dibantu hakim anggota Muhammad Tahir SH dan hakim Edy Siong SH, memutus hukuman bagi terdakwa Andi selama 2 tahun 10 bulan penjara.

Hukuman yang dijatuhkan majelis hakim kepada terdakwa Andi lebih ringan dari tuntutan JPU Kejari Dumai Andi Saputra Sinaga SH MH yang menuntut terdakwa Andi selama 4 tahun penjara.

Dalam berkas dakwaan JPU diketahui, terdakwa Andi meminta dana kepada saksi Abdul Latif untuk mengurus proyek, dan pada hari Selasa tanggal 12 April 2022 sekira pukul 21.00 Wib, Abdul Latif memberikan uang tunai sebesar Rp 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) kepada terdakwa dengan disertai kwitansi penyerahan uang tersebut.

Dan pada bulan Mei 2022, sesuai janji, Abdul Latif belum ada menerima proyek yang dijanjikan oleh terdakwa tersebut.

Kemudian pada tanggal 25 Juni 2022 terdakwa Andi bertemu dengan Abdul Latif, dan Abdul Latif menanyakan proyek yang dijanjikan terdakwa, lalu terdakwa berdalih menyampaikan bahwa proyek tersebut masih dalam proses di Dinas Pendidikan Provinsi Riau.

Lalu terdakwa meminta uang lagi kepada Abdul Latif sebesar Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) dengan alasan untuk menemui konsultan proyek. Kemudian Abdul Latif memberikannya.

Dan pada tanggal 26 Juni 2022, terdakwa bertemu lagi dengan Abdul Latif, kemudian terdakwa meminta bantuan dana lagi kepada saksi Abdul Latif untuk pengurusan proyek tersebut di Dinas Pendidikan Provinsi Riau sebesar Rp10.000.000,- (sepuluh juta rupiah), selanjutnya saksi Abdul Latif memberikan uang sebesar Rp10.000.000,- (sepuluh juta rupiah).

Setelah itu pada tanggal 14 Agustus 2022, terdakwa kembali meminta uang kepada Abdul Latif sebesar Rp 3.000.000,- (tiga juta rupiah) dengan alasan bahwa besok pada tanggal 15 Agustus 2022 terdakwa akan tanda tangan pekerjaan proyek.

Namun sampai dengan saat ini proyek yang dijanjikan oleh terdakwa tersebut tidak pernah ada. Akibat perbuatan terdakwa, Abdul Latif mengalami kerugian sebesar Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHPidana.

Atas putusan majelis hakim yang menghukum Andi selama 2 tahun 10 bulan penjara, kepada majelis hakim disebut terdakwa masih pikir-pikir untuk mengajukan banding. “Saya masih pikir-pikir pak hakim” kata Andi menjawab pertanyaan majelis hakim atas putusan tersebut.**